e6GvGCdbTzFsmYvH0IfUvnO72MWscluP9AUkD1SU

MUKTAMAR ABAD KEDUA NAHDLATUL ULAMA Potret Transformasi Nahdlatul Ulama dalam Menyambut Lintas Generasi (Generasi Z, Generasi Alpha, dan Generasi Beta)


Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) tanggal 27-31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Tambakberas Jombang mendatang bertepatan dengan muktamar pertama Nahldatul Ulama memasuki Abad Kedua. Tantangan zaman yang berbeda dibandingkan dengan masa awal berdirinya. Perubahan teknologi, perkembangan kecerdasan buatan, media sosial, perubahan pola komunikasi, ekonomi digital, perubahan budaya, serta munculnya generasi baru menuntut NU untuk melakukan adaptasi tanpa kehilangan jati diri dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah. 
Generasi Z, Generasi Alpha, dan Generasi Beta akan menjadi kelompok masyarakat yang semakin menentukan wajah Indonesia dan dunia pada masa mendatang. Mereka tumbuh dalam lingkungan digital dengan karakter, pola belajar, cara berkomunikasi, serta kebutuhan sosial yang berbeda dari generasi sebelumnya. Oleh karena itu, NU tidak cukup hanya mempertahankan pola dakwah, pendidikan, organisasi, dan kaderisasi yang telah berjalan selama puluhan tahun. NU perlu melakukan transformasi agar nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah dapat diterima, dipahami, dan diamalkan oleh generasi masa depan. 

Tulisan ini sebagai refleksi atas tantangan masa depan bagian dari “ikhtiar urun rembug” dalam menawarkan gagasan transformasi NU Abad Kedua melalui penguatan dakwah digital, pendidikan berbasis teknologi, kaderisasi lintas generasi, pengembangan ekosistem digital NU, pemanfaatan kecerdasan buatan secara etis, pemberdayaan ekonomi generasi muda, serta pembentukan ruang partisipasi anak muda dalam pengambilan keputusan organisasi. Prinsip utama transformasi tersebut adalah beradaptasi dalam metode tanpa kehilangan nilai, berinovasi dalam teknologi tanpa meninggalkan tradisi, dan membuka ruang bagi generasi baru tanpa memutus mata rantai perjuangan ulama dan pendahulu NU.
Tentu Nahdlatul Ulama sebagai organisasi keagamaan di Indonesia yang memiliki sejarah panjang dalam menjaga agama, membangun masyarakat, memperjuangkan kemerdekaan, serta berkontribusi terhadap kehidupan kebangsaan. Memasuki Abad Kedua, NU menghadapi sebuah pertanyaan mendasar: bagaimana NU dapat tetap menjadi rumah besar umat Islam dan masyarakat Indonesia ketika generasi yang akan menjadi penerus bangsa memiliki karakter yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya? 
Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting karena perubahan zaman berlangsung sangat cepat. Generasi Z tumbuh bersama internet dan media sosial. Generasi Alpha lahir ketika smartphone, platform digital, kecerdasan buatan, dan teknologi pembelajaran sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Sementara Generasi Beta akan tumbuh dalam dunia yang semakin terintegrasi dengan kecerdasan buatan, otomasi, Internet of Things, realitas virtual, dan berbagai teknologi yang hari ini bahkan belum sepenuhnya dapat kita bayangkan. Kondisi tersebut membawa peluang sekaligus tantangan bagi NU. Di satu sisi, teknologi memberikan kesempatan kepada NU untuk menyebarkan dakwah ke seluruh dunia dengan biaya yang jauh lebih murah dibandingkan metode konvensional. Seorang kiai dapat menyampaikan pengajian kepada jutaan orang melalui internet. Pesantren dapat memperkenalkan karya ilmiah dan tradisi keilmuannya kepada masyarakat internasional. Kader NU dapat membangun jaringan sosial dan ekonomi tanpa dibatasi oleh jarak geografis. Namun di sisi lain, perubahan teknologi juga melahirkan tantangan serius. Generasi muda menghadapi banjir informasi, disinformasi, radikalisme digital, budaya instan, krisis otoritas, kecanduan media sosial, serta perubahan cara memperoleh pengetahuan agama. Generasi muda saat ini tidak selalu mencari jawaban melalui mimbar masjid atau kitab secara langsung. Mereka dapat mengetik pertanyaan di mesin pencari, membuka YouTube, TikTok, Instagram, podcast, atau bertanya kepada kecerdasan buatan. Jika NU tidak hadir di ruang-ruang tersebut, maka ruang tersebut akan diisi oleh pihak lain. Persoalannya bukan apakah NU harus meninggalkan tradisi lama atau menggantinya dengan teknologi. Persoalannya adalah bagaimana nilai-nilai luhur NU diterjemahkan ke dalam bahasa dan medium yang dapat dipahami oleh generasi masa depan. Kaidah fikih yang sangat dikenal dalam tradisi NU, yaitu: “Al-muhafazhatu 'ala al-qadimi al-shalih, wal-akhdzu bil-jadidi al-ashlah.” Memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik merupakan prinsip yang sangat relevan untuk menghadapi Abad Kedua. Karena itu, Muktamar NU ke-35 perlu menjadi momentum untuk merumuskan arah baru organisasi: NU yang berakar kuat pada tradisi tetapi memiliki kemampuan beradaptasi dengan masa depan.
Tantangan NU di masa depan sangat kompleks tidak mudah organisasi berdiri tanpa menganalisa sejak dini tantangan yang akan dihadapi;
  1. Genarasi yang beda zaman, setiap generasi memiliki karakter sosial dan teknologi yang berbeda. Generasi Z umumnya merupakan generasi yang tumbuh dalam era internet dan media sosial. Mereka terbiasa mendapatkan informasi secara cepat, visual, interaktif, dan terbuka.
  2. Generasi Alpha tumbuh dalam lingkungan yang lebih digital lagi. Teknologi bukan lagi sesuatu yang mereka pelajari setelah dewasa, tetapi telah menjadi bagian dari lingkungan kehidupan mereka sejak kecil.
  3. Sementara itu, Generasi Beta akan menghadapi dunia yang semakin dipengaruhi oleh kecerdasan buatan, otomasi, robotika, dan teknologi digital yang terintegrasi dalam berbagai aspek kehidupan. Perbedaan tersebut menuntut NU untuk melakukan perubahan pendekatan.
  4. Krisis otoritas keagamaan, pada masa lalu seseorang yang ingin belajar agama biasanya berguru kepada kiai, ustaz, madrasah, pesantren, atau membaca kitab. Saat ini sumber pengetahuan agama sangat beragam. Generasi muda dapat memperoleh informasi keagamaan dari YouTube, TikTok, Instagram, podcast, mesin pencari, forum internet, aplikasi keagamaan, dan kecerdasan buatan. Hal ini menciptakan tantangan baru. NU harus mampu menjadikan ulama dan pesantren sebagai sumber otoritatif yang juga hadir secara kuat di ruang digital.
  5. Perubahan cara belajar, generasi baru tidak selalu nyaman dengan metode pembelajaran satu arah. Mereka cenderung menyukai pembelajaran yang visual, interaktif, praktis, singkat namun bermakna, dapat diakses kapan saja, menggunakan teknologi, serta memungkinkan diskusi dan kolaborasi. Pesantren dan lembaga pendidikan NU perlu menggabungkan kekuatan tradisi keilmuan klasik dengan metode pembelajaran modern.
Klasifikasi medan dakwah dan kaderisasi abad kedua NU meliputi Generasi Z: Generasi Jembatan. Generasi Z dapat dipandang sebagai generasi jembatan antara dunia analog dan digital. Mereka masih mengenal tradisi organisasi dan pendidikan konvensional, tetapi pada saat yang sama sangat akrab dengan dunia digital. NU perlu menjadikan Generasi Z sebagai mitra perubahan, bukan sekadar objek kaderisasi. Generasi Z harus diberikan ruang untuk membuat konten dakwah, mengembangkan teknologi NU, menjadi penggerak komunitas, membangun kewirausahaan, mengembangkan riset, mengelola media, serta terlibat dalam proses pengambilan keputusan organisasi.

Generasi Alpha: Generasi Digital-Native Generasi Alpha akan menjadi kelompok yang sejak kecil terbiasa dengan teknologi. Karena itu, NU perlu memikirkan pendidikan mereka sejak sekarang. Pendidikan NU tidak cukup hanya mengajarkan kemampuan membaca teks agama, tetapi juga harus membangun literasi digital, literasi media, literasi AI, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, karakter, akhlak, dan kemampuan berkolaborasi. Dengan demikian, teknologi tidak menjauhkan anak dari agama, tetapi menjadi sarana untuk memperkuat keislaman dan akhlaknya.

Generasi Beta: Generasi Masa Depan Generasi Beta akan tumbuh ketika kecerdasan buatan dan otomasi semakin dominan. Mereka mungkin hidup dalam dunia ketika AI menjadi teman belajar, asisten pekerjaan, konsultan, bahkan bagian dari kehidupan sosial. Pertanyaan besar bagi NU bukan sekadar apakah teknologi tersebut boleh digunakan. Pertanyaan yang lebih penting adalah: bagaimana NU mempersiapkan manusia agar tetap menjadi manusia di tengah perkembangan teknologi? Inilah wilayah penting NU. NU memiliki kekuatan pada pendidikan karakter, pesantren, tradisi keilmuan, spiritualitas, kebersamaan, dan etika. Semua itu justru semakin penting ketika teknologi berkembang semakin cepat.

 

Gagasan transformasi abad kedua NU yang perlu dilakukan pertama Membangun “NU Digital” NU perlu membangun ekosistem digital yang terintegrasi. Bukan sekadar memiliki website atau akun media sosial, tetapi membangun infrastruktur digital yang benar-benar menjadi rumah bagi warga NU. Ekosistem tersebut dapat mencakup: NU Digital ID, NU Learning, NU Library, NU Media, NU Marketplace, NU Career, NU Research, dan NU AI. Semua platform tersebut dapat dikembangkan secara bertahap dengan melibatkan pesantren, perguruan tinggi, badan otonom, lembaga, profesional, dan generasi muda NU. Kedua Transformasi Dakwah, dakwah NU perlu hadir di tempat generasi muda berada. Dakwah tidak harus selalu berbentuk ceramah panjang. Dapat dikembangkan video pendek, podcast, film, animasi, komik digital, infografis, game edukatif, kelas daring, dokumenter pesantren, dan konten interaktif. Namun transformasi tersebut harus tetap menjaga kualitas ilmu. Prinsipnya: format boleh berubah, substansi tidak boleh kehilangan sanad dan tanggung jawab keilmuan. Ketiga Pesantren 4.0 Pesantren harus menjadi salah satu pusat inovasi NU. Pesantren masa depan tidak hanya menghasilkan santri yang mampu membaca kitab, tetapi juga santri yang memahami teknologi, ekonomi, sains, bahasa asing, komunikasi, kecerdasan buatan, kewirausahaan, dan isu global. Santri harus mampu menjadi ulama yang memahami teknologi sekaligus teknolog yang memiliki kedalaman spiritual. Keempat Kaderisasi Berbasis Kompetensi Kaderisasi NU perlu memperluas definisi kader. Kader NU bukan hanya orang yang aktif dalam struktur organisasi. Kader juga dapat berasal dari programmer, akademisi, pengusaha, dokter, seniman, content creator, ilmuwan, profesional, aktivis lingkungan, dan berbagai profesi lainnya. NU harus mampu mengatakan: “Apa pun profesimu, engkau dapat menjadi bagian dari perjuangan NU.” Kelima Ruang Kepemimpinan Anak Muda Generasi muda jangan hanya diberi tugas sebagai pelaksana kegiatan. Mereka harus diberikan kesempatan untuk memimpin. Dalam organisasi NU, perlu diperkuat ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan gagasan, membuat program, mengelola anggaran, melakukan inovasi, mengevaluasi kebijakan, dan mengambil tanggung jawab kepemimpinan. Regenerasi bukan sekadar pergantian usia. Regenerasi adalah transfer nilai, ilmu, pengalaman, sekaligus pemberian ruang untuk berkreasi.

 

Moralitas dalam era teknologi sangat penting sekali bagaimana NU menjadi aktor utama dalam menjadikan kecerdasan buatan tidak hanya akan memengaruhi Generasi Alpha dan Beta. NU tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi semata. NU perlu menjadi pihak yang ikut membangun etika dan tata kelola teknologi. Diperlukan kajian keislaman mengenai etika penggunaan AI, hak cipta, privasi, penyebaran informasi palsu, deepfake, pendidikan berbasis AI, pekerjaan manusia, hubungan manusia dan mesin, serta dampak AI terhadap kehidupan sosial. NU dapat membentuk Pusat Kajian Islam, Etika, dan Kecerdasan Buatan yang mempertemukan ulama, akademisi, programmer, ilmuwan, dan profesional. Dengan demikian, NU tidak hanya bertanya: “Apa yang bisa dilakukan AI?” Tetapi juga: “Apa yang seharusnya dilakukan manusia dengan AI?”


Melihat realitas masa depan NU bagaimana muktamar dapat menjadi gerbang utama untuk mewujudkan NU Abad Kedua yang transformatif dengan harapan dapat: 

  1. Membentuk Roadmap Transformasi NU Abad Kedua 2026–2045 sebagai peta jalan jangka panjang organisasi.
  2. Membangun Ekosistem Digital NU yang terintegrasi dan mudah digunakan oleh warga NU.
  3. Membentuk Dewan/Forum Transformasi Digital dan AI NU yang melibatkan ulama, akademisi, santri, profesional, dan generasi muda.
  4. Mendorong seluruh lembaga pendidikan NU melakukan transformasi digital secara bertahap.
  5. Membangun NU Youth Innovation Hub sebagai ruang inovasi bagi generasi muda NU.
  6. Mengembangkan kurikulum kaderisasi yang menggabungkan Aswaja, kepemimpinan, teknologi, literasi digital, kewirausahaan, dan kecerdasan buatan.
  7. Membangun pusat produksi konten digital NU yang profesional dan mampu bersaing dengan konten digital global.
  8. Mendorong kader muda NU masuk ke berbagai bidang strategis seperti teknologi, sains, ekonomi digital, lingkungan, diplomasi, pendidikan, dan industri kreatif.
  9. Menyusun pedoman etika penggunaan kecerdasan buatan dalam pendidikan, dakwah, organisasi, dan pelayanan masyarakat NU.
  10. Menjadikan generasi muda bukan hanya sebagai objek kaderisasi, tetapi sebagai subjek pembangunan NU Abad Kedua.

Semoga Muktamar NU ke-35 bukan hanya forum pergantian kepemimpinan dan penyusunan program kerja semata. Muktamar harus menjadi ruang untuk menentukan arah perjalanan Nahdlatul Ulama memasuki Abad Kedua. Dunia yang dihadapi NU pada Abad Kedua tidak sama dengan dunia ketika NU didirikan. Karena itu, cara NU berdakwah, mendidik, mengorganisasi, melakukan kaderisasi, mengembangkan ekonomi, dan membangun kepemimpinan juga harus mampu menyesuaikan diri. Namun adaptasi tidak berarti meninggalkan tradisi, justru kekuatan NU terletak pada kemampuannya menjaga kesinambungan antara tradisi dan inovasi. 


Generasi Z membutuhkan NU yang mampu berbicara dengan bahasa mereka. Generasi Alpha membutuhkan NU yang mampu mendampingi mereka di dunia digital. Generasi Beta membutuhkan NU yang mampu mempersiapkan mereka menghadapi dunia yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Karena itu, tugas NU di Abad Kedua bukan sekadar mempertahankan apa yang sudah ada. Tugas NU adalah mewariskan nilai-nilai yang sama melalui cara-cara yang relevan dengan zaman yang terus berubah. NU harus tetap menjadi rumah besar Ahlussunnah wal Jamaah, tetapi rumah tersebut harus memiliki pintu yang terbuka bagi generasi baru. NU harus tetap menjaga kitab dan sanad keilmuan, tetapi juga mampu hadir di layar smartphone. NU harus tetap melahirkan ulama, tetapi juga harus melahirkan ilmuwan, teknolog, pengusaha, seniman, profesional, dan pemimpin masa depan. Pada akhirnya, tantangan terbesar NU di Abad Kedua bukanlah teknologi. Tantangan terbesar adalah kemampuan “MANUSIA NU” untuk beradaptasi tanpa kehilangan identitas. Maka semangat yang perlu dibawa menuju Muktamar NU ke-35 adalah: “Mengakar pada Tradisi, Bergerak dengan Inovasi, dan Menyiapkan Generasi untuk Masa Depan.” Dengan semangat tersebut, Nahdlatul Ulama tidak hanya akan menjadi organisasi yang bertahan melewati zaman, tetapi menjadi organisasi yang mampu membimbing zaman. NU Abad Kedua: tetap menjaga warisan ulama, mampu menjawab zaman, dan menyiapkan masa depan generasi muslim terbaik pembela kebenaran nilai-nilai Islam Rahmatan LilAlamin. Semoga.

Related Posts
Newest Older

Related Posts