e6GvGCdbTzFsmYvH0IfUvnO72MWscluP9AUkD1SU

Abad Kedua NU: Jangan Lagi Sibuk Mencari Lawan (Part 2)


Seratus tahun pertama sudah dilewati. Nahdlatul Ulama kini memasuki abad kedua. Sebuah perjalanan yang panjang, yang tentu saja tidak hanya berisi keberhasilan, tetapi juga perdebatan, perbedaan, konflik, dan berbagai dinamika yang menjadi bagian dari perjalanan sebuah organisasi besar.

Memasuki abad kedua, ada satu pertanyaan yang menurut saya layak direnungkan bersama: untuk apa NU menjadi semakin besar jika energi umat justru habis untuk mencari siapa yang berbeda dan siapa yang harus dijauhkan?

Pertanyaan ini bukan ditujukan untuk menyalahkan pihak tertentu. Justru karena NU adalah organisasi besar, pertanyaan semacam ini perlu disampaikan secara terbuka. Organisasi yang besar semestinya memiliki keberanian untuk melakukan evaluasi terhadap dirinya sendiri.

Zaman telah berubah. Persoalan umat juga berubah. Dulu mungkin perbedaan kelompok, aliran, atau kepentingan tertentu menjadi persoalan yang sangat penting. Sekarang umat menghadapi masalah yang jauh lebih rumit. Anak-anak muda berhadapan dengan banjir informasi, media sosial, judi daring, krisis keteladanan, dan perubahan budaya yang begitu cepat. Di sisi lain, masih banyak masyarakat yang kesulitan mendapatkan pendidikan dan kehidupan ekonomi yang layak.

Dalam keadaan seperti ini, rasanya sayang apabila energi organisasi dan umat terlalu banyak terserap untuk mempertentangkan perbedaan yang sebenarnya masih bisa diselesaikan dengan dialog. Di sinilah menurut saya tantangan PBNU pada abad kedua: mengubah cara pandang dari memetakan kawan dan lawan menjadi memetakan persoalan umat.

Perbedaan Tidak Harus Berakhir dengan Permusuhan

Perbedaan dalam kehidupan umat Islam bukan sesuatu yang baru. Bahkan sejak masa para ulama terdahulu, perbedaan pendapat telah menjadi bagian dari tradisi keilmuan. Kita mengenal berbagai mazhab fikih dengan perbedaan pendapat yang cukup banyak. Para ulama bisa berbeda dalam mengambil kesimpulan hukum, tetapi perbedaan tersebut tidak selalu membuat mereka saling meniadakan. Tradisi seperti ini sebenarnya sangat dekat dengan dunia pesantren dan NU. Karena itu, agak ironis apabila pada zaman sekarang perbedaan guru pengajian atau perbedaan pandangan keagamaan justru kadang menjadi alasan untuk saling menjauh, bahkan sampai terjadi penolakan terhadap sebuah kajian. Kita perlu membedakan antara perbedaan pendapat dengan tindakan yang memang melanggar hukum.

Jika sebuah kegiatan mengandung kekerasan, menghasut kebencian, mengancam keselamatan, atau melanggar ketentuan hukum, tentu ada mekanisme yang harus ditempuh. Tetapi jika persoalannya hanya karena berbeda pandangan dalam persoalan keagamaan, mengapa harus selalu diselesaikan dengan pengusiran?

Bukankah lebih baik dijawab dengan ilmu?

Jika ada kajian yang dianggap keliru, buatlah kajian yang lebih baik. Jika ada pendapat yang dianggap tidak tepat, berikan penjelasan dan argumentasi. Jika ada pemahaman yang dianggap tidak sesuai dengan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, jelaskan dengan cara yang santun dan ilmiah. Dengan begitu, umat tidak hanya disuruh memilih siapa yang harus didengar, tetapi juga diajarkan mengapa sebuah pendapat dianggap benar dan pendapat lain dianggap kurang tepat. Itulah pendidikan.

Jangan Takut Umat Mendengar

Ada kecenderungan dalam kehidupan beragama kita untuk menganggap bahwa mendengar pendapat orang lain sama dengan menyetujui pendapat tersebut. Menurut saya, cara berpikir seperti ini justru merugikan umat. Orang yang mendengar sebuah kajian belum tentu menerima seluruh isinya. Orang yang membaca sebuah buku belum tentu menyetujui semua pemikiran penulisnya. Begitu pula orang yang menghadiri pengajian seorang ustaz tidak otomatis menjadi pengikut seluruh pandangan ustaz tersebut. 

Umat harus diberi kesempatan untuk belajar.

Tugas organisasi keagamaan seharusnya bukan membuat umat takut mendengar, melainkan membuat umat semakin cerdas setelah mendengar. Kalau NU memiliki tradisi keilmuan yang kuat, sebenarnya tidak ada alasan untuk takut terhadap perbedaan. Tradisi keilmuan yang kuat justru akan membuat seseorang semakin percaya diri menghadapi perbedaan. Di pesantren, santri terbiasa membaca kitab, bertanya kepada guru, berdiskusi, bahkan menemukan perbedaan pendapat di antara para ulama. Dari situlah lahir kemampuan untuk memahami bahwa persoalan agama tidak selalu sesederhana hitam dan putih. Semangat seperti ini perlu dibawa ke ruang publik.

Masjid Jangan Menjadi Tempat Memperlebar Jarak 

Masjid memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Masjid bukan hanya tempat salat. Di banyak tempat, masjid menjadi tempat belajar, bersilaturahmi, bermusyawarah, dan membangun kepedulian sosial. Karena itu, jangan sampai masjid justru menjadi tempat yang memperbesar jarak di antara sesama umat Islam. Saya membayangkan masjid yang siapa pun boleh datang untuk salat, belajar, dan berdiskusi selama kegiatan tersebut berjalan tertib dan sesuai aturan. Perbedaan pandangan tidak otomatis menjadi alasan seseorang harus diusir. Tentu pengurus masjid memiliki kewenangan untuk mengatur kegiatan. Tetapi kewenangan tersebut idealnya digunakan untuk menjaga ketertiban dan kenyamanan jamaah, bukan untuk mempersempit ruang ilmu hanya karena perbedaan pilihan guru. Kalau ada kekhawatiran terhadap materi sebuah kajian, mari dibicarakan. Kalau ada yang dianggap keliru, mari dikoreksi. Kalau ada perbedaan, mari dipertemukan.

Kita perlu kembali membangun budaya “berbeda tetapi tetap bersaudara.”

NU Tidak Akan Kehilangan Jati Diri karena Terbuka Ada kekhawatiran bahwa keterbukaan terhadap kelompok atau pandangan yang berbeda akan membuat NU kehilangan identitasnya. Saya kira tidak demikian. Identitas yang kuat justru tidak mudah hilang hanya karena bertemu dengan perbedaan. NU tetap memiliki tradisi pesantren, para ulama, khazanah keilmuan, dan nilai-nilai yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Semua itu tidak akan hilang hanya karena NU memberikan ruang kepada orang lain untuk berdiskusi. Justru sebaliknya. Semakin terbuka ruang dialog, semakin terlihat kualitas tradisi keilmuan NU. Kalau sebuah pandangan berbeda dianggap salah, tunjukkan kesalahannya. Kalau argumentasinya lemah, tunjukkan kelemahannya. Kalau ada dalil yang lebih kuat, sampaikan dalil tersebut. Cara seperti itu jauh lebih mendidik daripada sekadar mengatakan, “Jangan dengarkan dia.” Umat sudah semakin dewasa. Mereka bisa menilai. Umat Membutuhkan Solusi Ada pertanyaan yang menurut saya perlu diajukan kepada kita semua: apakah persoalan terbesar umat saat ini adalah siapa yang mengisi sebuah pengajian? Saya kira bukan.

Persoalan umat jauh lebih besar. Kita masih melihat anak-anak yang putus sekolah. Banyak keluarga yang kesulitan ekonomi. Banyak pesantren yang membutuhkan penguatan. Generasi muda membutuhkan lapangan pekerjaan dan pendidikan yang relevan dengan perkembangan zaman. Belum lagi tantangan dunia digital. Informasi agama sekarang dapat diakses siapa saja melalui telepon genggam. Ceramah dari berbagai kelompok bisa masuk ke ruang keluarga setiap hari. Dalam kondisi seperti ini, tidak mungkin umat hanya dilindungi dengan cara melarang mereka mendengar. Yang dibutuhkan adalah kemampuan berpikir. Dan kemampuan berpikir hanya bisa dibangun dengan pendidikan. Karena itu, energi NU seharusnya diarahkan lebih banyak kepada penguatan pendidikan, ekonomi umat, pemberdayaan pesantren, pengembangan generasi muda, dan penguatan literasi keagamaan. Umat tidak membutuhkan lebih banyak musuh. Umat membutuhkan lebih banyak solusi.

PBNU Perlu Menjadi Jembatan

PBNU mempunyai posisi yang sangat strategis. Dengan jaringan pesantren, ulama, masjid, lembaga pendidikan, dan warga yang sangat luas, NU sebenarnya mempunyai kemampuan besar untuk menjadi jembatan antarkelompok. Tidak harus semua orang menjadi NU. Tidak harus semua orang memiliki cara berpikir yang sama. Yang penting adalah bagaimana perbedaan itu tidak berubah menjadi permusuhan. Inilah makna persatuan yang sebenarnya. Persatuan bukan keseragaman. Kita bisa berbeda pendapat tetapi tetap saling menghormati. Kita bisa berbeda guru tetapi tetap bertetangga. Kita bisa berbeda pilihan dalam persoalan keagamaan tertentu tetapi tetap saling membantu dalam persoalan sosial. Bukankah itu wajah Islam Indonesia yang selama ini kita banggakan? 

Kritik Bukan Permusuhan

Hal lain yang tidak kalah penting adalah membangun budaya kritik yang sehat. NU sebagai organisasi besar tentu tidak mungkin selalu benar dalam setiap keputusan. Begitu pula pengurusnya. Kritik terhadap kebijakan atau sikap organisasi tidak seharusnya langsung dianggap sebagai permusuhan. Justru organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu mendengarkan kritik. Warga NU juga harus memiliki ruang untuk bertanya. Mereka tidak harus selalu mengatakan “iya” terhadap semua hal. Tradisi intelektual tidak tumbuh dari kepatuhan yang membabi buta, tetapi dari keberanian bertanya dan mencari dasar dari setiap pendapat. Abad kedua NU semestinya menjadi abad ketika budaya berpikir dan berdialog semakin kuat. Saatnya Membuka Pintu Pada akhirnya, memasuki abad kedua, NU memiliki kesempatan untuk menunjukkan wajah yang semakin dewasa. Bukan wajah organisasi yang sibuk mencari siapa yang harus dijadikan lawan, tetapi organisasi yang mampu menjadi tempat bertemunya berbagai perbedaan. Jika ada kajian yang dianggap salah, jawab dengan kajian yang lebih baik. Jika ada pendapat yang dianggap keliru, jawab dengan ilmu. Jika ada perbedaan, buka ruang dialog. Jika ada konflik, kedepankan musyawarah. Jangan mudah mengusir orang dari ruang pengajian hanya karena berbeda guru. Jangan menutup pintu ilmu hanya karena khawatir seseorang mendengar pandangan yang berbeda. Sebab, pengusiran mungkin dapat mengosongkan sebuah ruangan, tetapi tidak akan mengosongkan pikiran manusia. Di era digital, ketika setiap orang dapat membuka ribuan ceramah hanya dengan satu sentuhan layar, melarang seseorang mendengar justru bukan solusi. Yang jauh lebih penting adalah membekali mereka dengan ilmu agar mampu membedakan mana yang baik dan mana yang tidak. Maka, abad kedua NU seharusnya menjadi momentum perubahan orientasi: dari sibuk mencari lawan menjadi sibuk mencari solusi; dari mempersempit ruang menjadi memperluas ruang ilmu; dari mempertajam perbedaan menjadi merawat persaudaraan. NU tidak perlu takut menjadi besar karena terbuka. NU justru akan semakin besar ketika mampu menunjukkan bahwa keyakinan yang kuat tidak harus melahirkan sikap yang keras, dan identitas yang kokoh tidak membutuhkan permusuhan terhadap mereka yang berbeda.

Seratus tahun pertama adalah sejarah. Seratus tahun berikutnya adalah pilihan. Dan pilihan itu ada di tangan NU hari ini: apakah abad kedua akan dikenang sebagai abad ketika NU semakin pandai membedakan kawan dan lawan, atau sebagai abad ketika NU berhasil mempersatukan umat yang selama ini terlalu lama dipisahkan oleh perbedaan? Jika NU memilih jalan persatuan, maka kebesarannya tidak hanya akan dirasakan oleh warga NU. Ia akan dirasakan oleh seluruh umat.

Related Posts
Newest Older

Related Posts