Blog ini didedikasikan untuk menggerakan keberagaman
sebagai kekuatan positif masyarakat. Keberagaman dan Toleransi menjadi kajian hangat di berbagai forum
diskusi, seminar, opini di media massa dan juga berbagai pelatihan. Wacana ini
seakan menemukan momentumnya untuk diproduksi ulang mengingat maraknya fenomena
gesekan bahkan konflik lintas suku, agama, dan antar aliran kepercayaan (SARA).
Selain itu dalam konteks merayakan perbedaan, idiom multikulturaisme nampaknya
lebih bisa diterima daripada “pluralisme”karena diksi terakhir menimbulkan
banyak resisitensi bagi sebagian kalangan agamawan. Memelihara Kesegaran Akal Sehat
Dalam kajian filsafat, pembicaraan “kedirian” yang
kemudian mendefinisikan eksistensi biner antara we and the others mendapatkan
tempat tersendiri, bahkan menjadi kajian awal sebelum membincang pengetahuan
dan dunia. Eksistensi diri dan cara pandang dalam melihat "yang lain” ini
membawa konsekuensi sosial bagaimana sang subyek menempatkan dan memperlakukan “yang lain”. Prinsip
dan pandangan hidup, keyakinan, identitas, agama yang menjadi sumber ekspresi
ke-diri-an, nyatanya cenderung
melahirkan ekspresi menganggap rendah yang lain bahkan meniadakan.
Karena itu, dalam konteks keragaman hidup, mengakui perbedaan saja tidak cukup,
lebih dari itu, mengakui dan memberi ruang hidup bagi eksistensi ”yang lain”
serta serius membangun koeksistensi yang dibangun atas dasar trusth
serta semangat merayakan perbedaan seharusnya menjadi artikulasi diri dalam
menyenandungkan irama kehidupan bersama bersama dengan eksistensi dan entitas
lain. Selamat Datang Sahabat
Menjelang Reformasi 1998, vatsun keragaman bangsa
yang dibentangkan dalam jargon Bhineka Tunggal Ika, robek dan terkoyak. Hal ini
ditandai dengan munculnya kasus Sabas, kasus Sampit, konflik Ambon, Konflik
Poso dan sejumlah konflik Paradoks, ini yang sering muncul dalam benak kita
ketika menerawang negeri ini yang konon memiliki banyak kearifan dalam
menyikapi perbedaan, khususnya perbedaan agama dan kepercayaan. Rentetan konflik yang menyeret-nyeret isu agama tidak
saja banyak, akan tetapi terus berlangsung. Konflik Ambon, Poso, teror gereja,
penyesatan terhadap aliran minoritas oleh lembaga keagamaan, seakan mencabik
identitas kebangsaan kita yang cukup dikenal sebagai bangsa yang religius,
toleran, dan dibesarkan oleh keragaman.
Problem toleransi nyatanya juga tidak hanya dibutuhkan dalam relasi antar umat beragama. Berbagai konflik lintas keyakinan yang mucul dalam dasawarsa terakhir juga terjadi di internal agama. Berbagai kasus kerusuhan dan kekerasan berkenaan dengan keberadaan isu aliran sesat juga hampir mendominasi konflik sosial. Sebut saja kasus ahmadiyah yang dalam beberapa waktu yang lalu mengemuka. Hal ini menunjukkan bahwa kearifan dan kebijaksanaan dalam mendialogkan perbedaan dan keragaman masih membutuhkan penguatan dari berbagai pihak. Perlu ada satu transformasi yang dilakukan terus menerus kepada generasi penerus bangsa untuk menanamkan semangat Persaudaraan Lintas Agama. Sehingga berbagai problem keyakinan tidak mudah untuk diarahkan kepada tindak kekerasan dan anarkhis. NGOPI-Lah
Problem toleransi nyatanya juga tidak hanya dibutuhkan dalam relasi antar umat beragama. Berbagai konflik lintas keyakinan yang mucul dalam dasawarsa terakhir juga terjadi di internal agama. Berbagai kasus kerusuhan dan kekerasan berkenaan dengan keberadaan isu aliran sesat juga hampir mendominasi konflik sosial. Sebut saja kasus ahmadiyah yang dalam beberapa waktu yang lalu mengemuka. Hal ini menunjukkan bahwa kearifan dan kebijaksanaan dalam mendialogkan perbedaan dan keragaman masih membutuhkan penguatan dari berbagai pihak. Perlu ada satu transformasi yang dilakukan terus menerus kepada generasi penerus bangsa untuk menanamkan semangat Persaudaraan Lintas Agama. Sehingga berbagai problem keyakinan tidak mudah untuk diarahkan kepada tindak kekerasan dan anarkhis. NGOPI-Lah